Search
Title    
Rubric  
       
Login
User    
Password   

Register New Member

Forgot Password ?

  Menu
 
         
  hacked by R-S-D  
 
FAKTOR RESIKO TERJADINYA FIBRILASI ATRIUM PADA PENDERITA STENOSIS MITRAL : PERANAN DIMENSI ATRIUM KANAN
Author : Budi Yuli Setianto,
Senin, 06 Agustus 2007 00:00:00
 
Bagian Kardiologi FKUI/RSJHK
 
Latar belakang : Fibrilasi atrium (AF) merupakan jenis aritmia yang paling sering dijumpai terutama pada penderita stenosis mitral (MS). Atrium kanan mempunyai karakteristik anatomis tertentu yang menyebabkan halangan elektrofisiologis alamiah yang memungkinkan terjadinya simit reentry, sehingga memudahkan timbulnya aritmia seperti flutter atrium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dimensi atrium kanan mempunyai peran yang lebih besar dan merupakan faktor resiko independen terhadap timbulnya AF pada penderita stenosis mitral dibanding dengan faktor lain. Metode dan hasil. Dilakukan penelitian secara potong lintang prospektif dengan menggunakan data base terhadap 42 penderita MS dominan yang dilakukan kateterisasi jantung dan/ valvuloplasti dengan balon (PTMC) antara bulan Juli s/d Desember 1998 (selama 6 bulan). 30 penderita dimasukkan dalam penelitian. Rasio laki-laki/perempuan adalah 11/19, rerata umur 34,07+11,58 tahun dengan rentang umur 16-64 tahun. Prosentase penderita AF sebanyak 46,7%. Penderita AF mempunyai umur yang lebih tua secara bermakna dibanding dengan penderita irama sinus (SR) (38,71+12,57 tahun vs 30,00+9,18 tahun, p=0,16). Kelas fungsional penderita AF lebih buruk secara bermakna dibanding kelompok SR (2,36+0,50 vs 1,69+0,60, p=0,003). Fraksi ejeksi kelompok AF lebih rendah secara bermakna dibanding kelompok SR (54,12+10,71% vs 68,69+6,50%, p=0,015). Kelompok AF mempunyai Cardio thoracic ratio (CTR) lebih besar secara bermakna dibanding kelompok SR (62,74+7,53% vs 54,79+5,32%, p=0,006). Area katup mitral dan gradien transmitral tidak berbeda bermakna diantara kedua kelompok. Sedang diameter akhir sistolik, diameter antero-posterior atrium kiri, luas permukaan atrium kanan, diameter medio-lateral atrium kanan, diameter supero-inferior atrium kanan, dan volume atrium kanan lebih besar secara bermakna pada kelompok AF dibanding kelompok SR (berurut-urut 3,264+0,531 cm vs 2m649+0,559 cm, p=0,005; 5,148+1,025 cm vs 4,22+0,668 cm, p=0,006; 3,997+0,927 cm vs 2,919+0,785 cm, p=0,000; 5,867+0,666 vs 4,446+0,738 cm, p=0,002; 31,072+8,583 cm2 vs 17,488+5,646 cm2, p=0,000; 52,435+29,647 cm3 vs 21,609+11,517 cm3, p=0,001). Demikian pula tidak ada perbedaan bermakna dalam variabel hemodinamik diantara kedua kelompok AF dan SR. Dengan analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik menunjukkan hanya luas permukaan atrium kanan yang berperan terhadap timbulnya AF (p=0,0079; koefisien regresi=0,407; OR=1,503; Cl95% OR=1,121-2,014). Kesimpulan : pada penderita MS : luas permukaan atrium kanan lebih berperan dan merupakan faktor resiko independen terhadap timbulnya AF dibanding dengan variabel lain termasuk dimensi atrium kiri.

Dipresentasikan 12/1999 di Bagian Kardiologi FKUI/RSJHK

 
  Another hacked by R-S-D  
 
 
Link







   
Home | Journal Collection And News | Webmail | Profiles | Staff's List | Contact Us | Forum
2007 Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI